Sebuah data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), pada rentang Januari hingga November 2023 sudah terdapat 15.120 kasus kekerasan terhadap anak. Sebanyak 12.158 korban anak perempuan dan 4.691 korban anak laki-laki. Dari angka itu, kekerasan seksual menempati urutan pertama dari jumlah korban terbanyak sejak tahun 2019 sampai tahun 2023. Pelaku kekerasan seksual terhadap anak ini umumnya berasal dari lingkungan terdekatnya. Mulai pacar, teman, tetangga, guru bahkan orangtuanya sendiri Tingginya angka kekerasan pada anak semakin mengkhawatirkan. Dari tahun ke tahun, angka ini masih kerap naik. Hal ini tentu menjadi sorotan publik. Saya pribadi, sebagai seorang ibu merasa khawatir melihat kondisi seperti ini. Anak-anak seperti tidak punya tempat yang aman untuk bermain dan belajar. Namun kekhawatiran ini tidak bisa dibiarkan. Masyaallah, beberapa gerakan baik dari lingkup pemerintah, komunitas hingga individu dilakukan untuk menjadi solusi...
Dua belas tahun lalu saya adalah mahasiswa yang cukup aktif dalam organisasi kampus. Saya sempat aktif sebagai anggota BEM fakultas dan masuk bidang Penalaran dimana salah satu fokusnya adalah mengadakan seminar atau workshop di tingkat fakultas. Pengalaman inilah yang saat itu membuat kemampuan public speaking saya meningkat meski saya belum pernah menjadi pembicara dalam sebuah event . Saat itu, saya cukup aktif memberikan komentar atau pertanyaan saat berada dalam forum diskusi. Ya, meski rasa grogi bahkan takut melakukan kesalahan dalam berpendapat namun saya terus memberanikan diri untuk berbicara di publik. Dua belas tahun berlalu, saya berpikir kemampuan itu seolah tak terpakai terlebih setelah saya menikah dan mempunyai anak. Saya lebih banyak belajar tentang sesuatu yang dekat dengan keseharian saya sebagai seorang istri dan ibu. Hingga suatu hari saya pernah diminta untuk mengisi diskusi kecil tentang kepenulisan karena saya aktif menulis di media dan juga menulis...