Langsung ke konten utama

Perempuan Melek Keuangan: Dari Tidak Tahu Menjadi Lebih Sadar


Stress dikit pengennya jajan. bosen dikit, pengennya belanja. 
Mungkin kalimat itulah yang cocok melekat pada diri perempuan. Jajan dan belanja rasanya sudah melekat dalam tabiat seorang perempuan.
Apalagi dengan segala kemudahan hari ini, ingin sesuatu bisa cukup dengan klik tanpa harus pergi kemana-mana. Wajar, jika di era digital saat ini, kita seringkali memposisikan diri kita hanya sebagai pengguna aplikasi. Padahal, tanpa disadari kita juga menjadi “target”—baik dari sisi iklan, gaya hidup, hingga keputusan finansial yang seringkali impulsif. Hal ini tentu menjadi pengingat bahwa literasi keuangan bukan lagi pilihan, tetapi sudah menjadi kebutuhan.
Saya pribadi merasakan hal ini secara nyata. Sudah hampir 10 tahun menjalani pernikahan, namun jujur saja, pengetahuan tentang manajemen keuangan rumah tangga masih sangat minim. Awalnya saya hanya berpikir, selama kebutuhan terpenuhi dan tidak berutang, semuanya baik-baik saja. Tapi ternyata, mengelola keuangan bukan hanya soal cukup hari ini—melainkan juga kesiapan untuk masa depan.

Melek Keuangan : Kebutuhan bukan Pilihan

Punya kesempatan untuk bisa belajar mengelola keuangan terutama untuk aku yang sudah berkeluarga dan punya anak adalah kesempatan berharga. Masyaallah, kemarin sore aku dapat kesempatan untuk mengikuti webinar edisi Hari Kartini yang diadakan oleh Femaledigest yang mengangkat tema melek keuangan bertajuk "Literasi Tinggi, Risiko Rendah. Kartini Modern Melek Finansial." Bareng mbak Dedek Gunawan, seorang Financial Planner dan Founder PBP bersama dengan Mbak Diana Anggraini seorang Dosen LSPR Institute of Communication and Business mengupas tuntas tema ini. 
"Biaya hidup perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki" 
Kalimat ini menyadarkanku bahwa " Bener juga, ya". Selama ini produk-produk perempuan jauh lebih banyak bahkan secara harga rata-rata lebih mahal dibanding produk laki-laki. Contoh saja, laki-laki nggak perlu make up yang ribet seperti make up perempuan. 
Meski urusan mengelola keuangan menjadi kemampuan yang tak hanya diperuntukan bagi perempuan. Namun bagi perempuan melek manajemen keuangan adalah skill dasar apalagi saat perempuan menikah, urusan keuangan rumah tangga biasanya dikelola oleh perempuan. 

Mengatur Keuangan dengan Konsep Sederhana

Dalam sharing materi yang disampaikan oleh pembicara ada konsep budgeting yang cukup mudah dipahami:

Needs (Kebutuhan): Pengeluaran wajib seperti makan, listrik, pendidikan
Wants (Keinginan):Hal-hal yang sifatnya hiburan atau gaya hidup
Charity (Berbagi):Sedekah atau donasi
Investment (Investasi):Tabungan masa depan

Selama ini, saya cenderung mencampur semuanya tanpa perencanaan yang jelas. Akibatnya, sering merasa uang “cepat habis” tanpa tahu ke mana arahnya. Bahkan tidak sampai pada tahap berpikir investasi. Inilah yang seringkali membuat saya berpikir " ya udah gimana nanti. Insyaallah ada rezekinya" 
Padahal segalanya perlu perencanaan. Saya juga mulai merasa tertampar saat Mbak Dedek bilang bahwa, buka marketplace bisa langsung CO padahal ternyata apa yang dibeli tidak terlalu penting. Atau terjerumus dengan kata, "belanja jadi lebih hemat". Padahal yang dibeli bukan kebutuhan pokok. 

Mbak Dedek juga mengatakan ada beberapa kesalahan umum yang sering dialami saat bicara soal keuangan seperti 

* Takut mengatur angka (merasa ribet)
* Menunda menabung karena merasa “uang belum cukup”
* Tidak memiliki perencanaan jangka panjang



Padahal, justru dengan kondisi sederhana sekalipun, pengelolaan keuangan tetap harus dimulai. Selain itu Setiap keluarga memiliki fase keuangan . Mbak Dedek membaginya menjadi 5 tahap fase keuangan. 

1. Awal bekerja dan membangun mindset
2. Mulai berkeluarga dan kebutuhan meningkat
3. Masa produktif dengan tanggung jawab besar
4. Persiapan pensiun
5. Menikmati hasil di masa tua

Saya menyadari bahwa saat ini aku sudah berada di fase kedua menuju ketiga, namun kesiapan finansial belum maksimal. Ini menjadi titik refleksi yang cukup dalam.

Mulai dari Sekarang

Perjalanan hampir 10 tahun pernikahan ini menyadarkanku bahwa belajar keuangan tidak mengenal kata terlambat. Justru semakin cepat kita sadar, semakin besar peluang untuk memperbaiki kondisi ke depan. Tidak perlu langsung sempurna. Mulai saja dari hal kecil seperti mencatat pengeluaran, memisahkan kebutuhan dan keinginan, menyisihkan dana darurat dan mulai memahami investasi.
Karena pada akhirnya, tujuan kita bukan sekadar “cukup hari ini”, tetapi juga tenang menghadapi masa depan.

Terimakasih untuk Teh Ani Berta, Femaledigest dan para pemateri yang luar biasa. Masyaallah nggak perlu jadi ahli untuk belajar keuangan sebab yang paling penting adalah kita yang mau terus bertumbuh dan belajar. 

Terimakasih juga untuk Nutrifood, Tropicanaslim, Wardah Beauty dan juga Paragon Corp yang telah mendukung acara ini. Semangat untuk para Kartini hebat masa kini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 Hal yang Bisa Diambil dalam Film "Miskin Susah Kaya Susah"

Beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah film tahun 2013 yang berjudul "Miskin Susah, Kaya Susah". Film ini diangkat dari sebuah cerpen berjudul "Pispot" karya Hamsad Rangkuti. Film ini sempat tayang di salah satu stasiun TV swasta di negeri ini.  Berkisah tentang sepasang suami istri miskin yang hidupnya begitu nelangsa di sebuah kampung kumuh di pinggiran kota. Mas Karyo (Epy Kusnandar) hanyalah seorang tukang tambal ban. Namun kenyataan pahit harus ia terima saat anaknya Tini menderita sakit tumor otak. Saroh, Sang istri meminta suaminya untuk membawa anaknya ke rumah sakit agar bisa ditolong dan ditangani pihak medis.  Mas Karyo menunggu orang yang mampir ke lapak tambal bannya Namun nasib ! ia hanya seorang tukang tambal ban yang tak punya penghasilan tetap. Di sisi lain ia merasa bimbang dan khawatir dengan kondisi Tini.berbagai upaya ia lakukan dari meminjam uang hingga menjual TV, satu-satunya barang berharga yang ia miliki. Namun...

Lakukan Hal ini untuk jadi Public Speaker yang Handal

Dua belas tahun lalu saya adalah mahasiswa yang cukup aktif dalam organisasi kampus. Saya sempat aktif sebagai anggota BEM fakultas dan masuk bidang Penalaran dimana salah satu fokusnya adalah mengadakan seminar atau workshop di tingkat fakultas. Pengalaman inilah yang saat itu membuat kemampuan public speaking saya meningkat meski saya belum pernah menjadi pembicara dalam sebuah event .  Saat itu, saya cukup aktif memberikan komentar atau pertanyaan saat berada dalam forum diskusi. Ya, meski rasa grogi bahkan takut melakukan kesalahan dalam berpendapat namun saya terus memberanikan diri untuk berbicara di publik.  Dua belas tahun berlalu, saya berpikir kemampuan itu seolah tak terpakai terlebih setelah saya menikah dan mempunyai anak. Saya lebih banyak belajar tentang sesuatu yang dekat dengan keseharian saya sebagai seorang istri dan ibu. Hingga suatu hari saya pernah diminta untuk mengisi diskusi kecil tentang kepenulisan karena saya aktif menulis di media dan juga menulis...

Negeri Tanpa Rasa (ODOP Day 27 of 99)

                                          https://www.youtube.com/watch?v=79FQRiBPPPQ Judul diatas merupakan salah satu judul film pendek berdurasi lima menit(diposting oleh akun Youtube: Ihsan Nur Azizi) yang cukup membuat saya tertarik sebab realitasnya ada dan terasa. Kebetulan sedang iseng mencari film-film pendek yang berisi kritik sosial,  akhirnya terpaut dengan film ini untuk sedikit memberi inspirasi opini lewat film tersebut.   Film ini menggambarkan tentang kondisi Indonesia dan rasanya sepertinya saya tidak perlu menggambarkan ulang lewat tulisan ini sebab apa yang ada dalam film tersebut sudah kita lihat sendiri baik lewat TV, sosial media atau langsung di depan mata kita sendiri. Negeri ini memang sudah “mati” rasa. Tak ada rasa iba terhadap sesama, tak punya rasa malu bahkan rasa-rasanya pemimpin negeri inipun telah lupa diri. Lihat saja, tak han...