Langsung ke konten utama

Tujuan


Suatu hari, ketika saya melihat beberapa teman di sosial media yang aktif menulis,  saya merasa tertarik untuk ikut melakukan hal yang sama.  Akhirnya dari situ saya mencari beberapa grup kepenulisan dan bergabung agar bisa ikut aktif menulis.  Ketertarikan saya saat itu sebenarnya karena pengalaman menulis ketika duduk di bangku perguruan tinggi. Ditambah lagi saya merasa bahwa beberapa teman yang saya kenal ikut tergabung dalam grup kepenulisan.  Saat itu saya merasa punya semangat yang sama dengan mereka walaupun kemampuan menulis saya mansih sangat minim.  

Sebulan dua bulan berselang  saya merasa bosan melakukan aktivitas menulis.  Entah kenapa pada saat itu saya juga bingung mau menulis apa. Selain karena selama ini saya merasa aktivitas menulis saya hanya sekedar ikut-ikutan saja sehingga mood menulispun jadi hilang timbul.  Ketika saya merasa tak punya ide dan bingung mau menulis apa akhirnya saya membiarkan diri saya asyik dengan hanya bolak balik membuka akun sosmed dan berhenti dari aktivitas tersebut. 
Beberapa hari kemudian akhirnya saya memutuskan untuk memulai aktivitas baru yaitu merajut. Ternyata kejadian sebelumnya terulang. Hanya berselang sebulan kemudian saya tinggalkan aktivitas merajut karena saya merasa bosan.  Berganti waktu saya mencoba lagi aktivitas baru yaitu membuat hand lettering (melukis kata).  Kegiatan melukis ini sebenarnya bagian dari hobi yang dulu pernah saya geluti ketika duduk di bangku sekolah dasar.  Namun kemudian saya tinggalkan juga aktivitas tersebut karena satu alasan yang sama,  BOSAN. 

Saya merenung dan memikirkan kenapa saya mudah sekali merasa bosan dengan sebuah aktivitas. Saya juga bingung sebenarnya apa yang ingin saya geluti?  
Dari situ akhirnya saya mulai mengerti bahwa selama ini apa yang saya lakukan tak memiliki tujuan  atau visi yang jelas.  Sebab tanpa tujuan seseorang akan merasa cepat bosan.  Tanpa tujuan juga berefek pada tidak adanya dorongan yang kuat untuk melakukan sesuatu. 

Tentu begitu juga dengan hidup. Kebingungan dan kebosanan yang melanda hidup kita terkadang dan bahkan lebih sering membuat kita tidak tahu mau berbuat apa.  Tak sedikit kebingungan membuat kita menjadi malas melakukan suatu hal. Ketika kita merasa bingung dengan tujuan hidup kita, kita akan merasa seolah hidup ini untuk apa?. Maka penting bagi kita untuk memetakan hidup kita.  Kekuatan visi dan keyakinan akan membuat kita semakin berenergi dalam melakukan sesuatu. Dengan begitu apapun yang kita lakukan semata-mata akan kita membuat kita optimal dalam menjalani peran yang yang kita ambil.  

Syaikh Taqqiyidin An Nabhani juga menyebutkan dalam kitab Nizhomul islam dalam bab Thoriqul Iman bahwa kebangkitan manusia berawal dari kebangkitan berpikirnya.  Melalui aktivitas berpikir kita akan memperoleh pemahaman dan pemahaman akan mempengaruhi persepsi kita terhadap sebuah aktivitas.  Oleh karena itu, seseorang yang memulai suatu aktivitas lewat jalan berpikir tentu akan punya dorongan yang lebih kuat dalam melakukan sesuatu sebab dorongannya muncul dari pemahamannya yang berasal dari aktivitas berpikir.

Keyakinannya membuat ia terus bergerak sekalipun   tak ada lagi orang-orang yang mendukungnya.  Iapun takkan lagi merasa bosan dengan aktivitas yang ia jalani sekalipun dihadang oleh berbagai tantangan dan kesulitan.  Selama tidak menyalahi aturan ia akan berfokus pada tujuan yang ingin dia raih.  Keyakinan bahwa aktivitas itu benar membuatnya punya dorongan lebih sekalipun kelelahan pasti akan menghampiri.  

So saatnya memetakan tujuan hidupmu dan ambil peranmu sekarang.  Jadilah seorang yang expert ahgar bermanfaat bagi umat.  Sebab hidup ini hanya sola kebermanfaatan seperti apa yang pernah disampaikan oleh Rasulullah saw "sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat diantara yang lain" 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 Hal yang Bisa Diambil dalam Film "Miskin Susah Kaya Susah"

Beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah film tahun 2013 yang berjudul "Miskin Susah, Kaya Susah". Film ini diangkat dari sebuah cerpen berjudul "Pispot" karya Hamsad Rangkuti. Film ini sempat tayang di salah satu stasiun TV swasta di negeri ini.  Berkisah tentang sepasang suami istri miskin yang hidupnya begitu nelangsa di sebuah kampung kumuh di pinggiran kota. Mas Karyo (Epy Kusnandar) hanyalah seorang tukang tambal ban. Namun kenyataan pahit harus ia terima saat anaknya Tini menderita sakit tumor otak. Saroh, Sang istri meminta suaminya untuk membawa anaknya ke rumah sakit agar bisa ditolong dan ditangani pihak medis.  Mas Karyo menunggu orang yang mampir ke lapak tambal bannya Namun nasib ! ia hanya seorang tukang tambal ban yang tak punya penghasilan tetap. Di sisi lain ia merasa bimbang dan khawatir dengan kondisi Tini.berbagai upaya ia lakukan dari meminjam uang hingga menjual TV, satu-satunya barang berharga yang ia miliki. Namun...

Aktif kembali!

  sudah lebih dari setahun lewat beberapamhari akhirnya saya kembali membuka blog ini. tulisan pertama tahun ini, kira-kira tentang apa ya?  akhirnya diputuskan bahwa tulisan tahun ini akan dimulai tentang serba-serbi ilmu tentang rumah tangga. kenapa? karena kajian atau ilmu rumah tangga masih sangat sedikit. padahal ilmu rumah tangga ini sangatlah penting. tidak kalah pentingnya dengan ilmu parenting. So, tunggu postingan selanjutnya ya.  Jangan lupa follow blogku ya 😘 sekian

Membangun Asa Pemerataan Pendidikan di Wilayah Timur Indonesia bersama PFP

Sumber : pixabay.com Sudah tahun 2024, namun pemerataan pendidikan masih jadi PR di negeri ini . Negeri yang punya potensi besar, namun masyarakatnya masih jauh dari mimpi SDM yang berkualitas. Namun kita tak patut hanya mengkritik tanpa ada aksi nyata.  Ada cerita yang sering aku  dengar dari Ayahku, saat aku kecil. Dulu, ayahku  bercerita bahwa  ia sangat ingin sekali mengenyam pendidikan hingga Perguruan tinggi. Saat itu, ayahku adalah seorang siswa SMK. Namun saat beliau masih kelas dua,  keinginannya untuk bisa masuk perguruan tinggi harus kandas karena perubahan kebijakan di negeri ini. Beliau pun akhirnya bertekad agar semua anaknya bisa merasakan belajar hingga ke perguruan tinggi dan mimpi itu terwujud. Semua anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.  Jika ayahku punya mimpi agar semua anak-anaknya bisa merasakan bangku kuliah, maka begitupun yang dilakukan oleh Bhrisco Jordy Dudi Padatu. Pemuda kelahiran Jayapura yang punya s...