Langsung ke konten utama

Memulai Menulis (ODOP day 6 of 99)


       Sejak saya memulai menulis saya sudah mempunyai tekad yang kuat untuk konsisten menulis setiap hari. Bahkan ketika saya masuk kelas menulis, para mentor menyuruh kami yang tergabung dalam kelas tersebut untuk konsuiten menulis setiap hari. Tantangan ini tentu bukan tantangan yang kecil. Sebab ditengah tantangan tersebut ada saja kendala yang saya jumpai seperti bingung mau menulis apa sehingga hilang mood. Menciptakan mood menulis memang kendala tebesar yang saya temui. Sebab jika tak ada mood, sulit sekali menemukan ide bahkan memulai kata pertama untuk menulis.

       Tapi begitulah seorang penulis. Pekerjaannya bukan hanya terus-menerus membaca bagaimana cara menulis yang benar. Tugas penulis adalah menulis. Lalu bagaimana  jika bingung mau menulis apa?atau tidak ada mood untuk menulis. Jika seorang bingung mau menulis maka bisa dengan membaca untuk menemukan inspirasi dan referensi. Cara lain untuk menciptkan  ide menulis bisa dengan bertemu dengan teman, mencari berita, sejenak berjalan-jalan agar muncul ide untuk menulis.

Lalu bagaimana dengan mood? Terkadang ketika ada masalah, sulit sekali menciptakan mood. Nah, mood memang sangat bergantung dengan kondisi perasaan kita tapi bukan berarti kita akhirnya terbawa suasana sehingga komitmen untuk terus menulis menjadi hilang. Cara untuk membuat mood menulis itu muncul adalah dengan menciptakan mood. Mood tidak selalu harus ditunggu. Kita bisa menciptakan mood itu sendiri. Salah satu contoh hal untuk menciptakannya adalah dengan berkumpul dengan orang-orang yang punya tujuan yang sama dengan kita. Cara lain adalah dengan kembali mengingat komitmen awal untuk menjadi seorang penulis. Maka menuliskan komitemn menjadi sangat penting. Sebab hal ini berguna jika suatu saat bertemu pada kondisi dimana mood menulis sedang hilang.

Nah, sudah siap menulis kembali?

Rasanya harus segera dimulai dan.....
mulailah sekarang juga! J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 Hal yang Bisa Diambil dalam Film "Miskin Susah Kaya Susah"

Beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah film tahun 2013 yang berjudul "Miskin Susah, Kaya Susah". Film ini diangkat dari sebuah cerpen berjudul "Pispot" karya Hamsad Rangkuti. Film ini sempat tayang di salah satu stasiun TV swasta di negeri ini.  Berkisah tentang sepasang suami istri miskin yang hidupnya begitu nelangsa di sebuah kampung kumuh di pinggiran kota. Mas Karyo (Epy Kusnandar) hanyalah seorang tukang tambal ban. Namun kenyataan pahit harus ia terima saat anaknya Tini menderita sakit tumor otak. Saroh, Sang istri meminta suaminya untuk membawa anaknya ke rumah sakit agar bisa ditolong dan ditangani pihak medis.  Mas Karyo menunggu orang yang mampir ke lapak tambal bannya Namun nasib ! ia hanya seorang tukang tambal ban yang tak punya penghasilan tetap. Di sisi lain ia merasa bimbang dan khawatir dengan kondisi Tini.berbagai upaya ia lakukan dari meminjam uang hingga menjual TV, satu-satunya barang berharga yang ia miliki. Namun...

Aktif kembali!

  sudah lebih dari setahun lewat beberapamhari akhirnya saya kembali membuka blog ini. tulisan pertama tahun ini, kira-kira tentang apa ya?  akhirnya diputuskan bahwa tulisan tahun ini akan dimulai tentang serba-serbi ilmu tentang rumah tangga. kenapa? karena kajian atau ilmu rumah tangga masih sangat sedikit. padahal ilmu rumah tangga ini sangatlah penting. tidak kalah pentingnya dengan ilmu parenting. So, tunggu postingan selanjutnya ya.  Jangan lupa follow blogku ya 😘 sekian

Membangun Asa Pemerataan Pendidikan di Wilayah Timur Indonesia bersama PFP

Sumber : pixabay.com Sudah tahun 2024, namun pemerataan pendidikan masih jadi PR di negeri ini . Negeri yang punya potensi besar, namun masyarakatnya masih jauh dari mimpi SDM yang berkualitas. Namun kita tak patut hanya mengkritik tanpa ada aksi nyata.  Ada cerita yang sering aku  dengar dari Ayahku, saat aku kecil. Dulu, ayahku  bercerita bahwa  ia sangat ingin sekali mengenyam pendidikan hingga Perguruan tinggi. Saat itu, ayahku adalah seorang siswa SMK. Namun saat beliau masih kelas dua,  keinginannya untuk bisa masuk perguruan tinggi harus kandas karena perubahan kebijakan di negeri ini. Beliau pun akhirnya bertekad agar semua anaknya bisa merasakan belajar hingga ke perguruan tinggi dan mimpi itu terwujud. Semua anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.  Jika ayahku punya mimpi agar semua anak-anaknya bisa merasakan bangku kuliah, maka begitupun yang dilakukan oleh Bhrisco Jordy Dudi Padatu. Pemuda kelahiran Jayapura yang punya s...